Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Tuesday, February 26, 2013

Queensland began to Seek Tourists from Indonesia

BRISBANE, KOMPAS.com — this became the Indonesia Slama excursions for tourists from Australia, now state of Queensland began to turn to the opposite direction more tourists from Indonesia who is travelling abroad.

According to a report on news.com.au site Sunday (17/2/2013), Queensland tourism operators will be 12th visit to Jakarta this week to take part in the first trade mission in order to attract more tourists visiting Indonesia to Queensland. In Jakarta, they will meet with about 150 Tourism Bureau, the media and other agencies engaged in the field of tourism.

According to Minister of Tourism Queensland Jann Stuckey, the value of tourist visits from Southeast Asia including Indonesia to Queensland would be worth about 700 million dollars in the year 2020. Special visitors from Indonesia, Stuckey hopes the visit directly to Queensland will rise sharply following the opening of direct flight by Garuda, the route Jakarta-Bali-Brisbane this coming June.

"There is tremendous growth potential in Indonesia, particularly in business travel and tourism market. This was the basis for Tourism Queensland's first trade mission to Indonesia, "Stuckey said in a statement.

According to reports in Australia Compass correspondent l. Literature Wijaya, Queensland which some mild tropical regions have long been the bone pungung for Tourism Australia. The main tourist areas such as the Gold Coast, Brisbane, and the Great Barrier Reefs, Cairns became a major tourist destination for tourists from Asia, such as Japan. For a tourist destination in Indonesia, which is usually in a group, Queensland is one of the main chain of visits in addition to Melbourne and Sydney.

Friday, August 24, 2012

The U.S. Foreign Minister Congratulate Indonesia Independence Day

WASHINGTON, KOMPAS.com-U.s. Secretary of State Hillary Clinton, on behalf of President Barack Obama and the American people, conveying his congratulations to independence day-67 for the people of Indonesia on August 17.
In a written statement released by U.s. Department of State on 15 August, Clinton said, as long as a decade ago, Indonesia has emerged as a State with a growing democracy thrive, and as regional leaders and the world.

Indonesia's commitment to the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), he said, has become an inspiration to countries throughout the Asia Pacific region.
Clinton also said the u.s. also wanted closer relations between the two countries that are manifest in strategic partnerships, and continue to work in favour of peace, prosperity, and democracy all over the world.

Wednesday, August 22, 2012

Indonesia Dukung Demokratisasi Myanmar

AppId is over the quota

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia memiliki komitmen untuk berkontribusi pada stabilisasi di kawasan Asia Tenggara. Komitmen ini diwujudkan, antara lain, dengan mendukung proses demokratisasi dan pembangunan bangsa di Myanmar. Indonesia berharap Myanmar dapat menyelesaikan konflik komunal antara suku Rohingnya dan Rakhine.

"Kita memberi perhatian yang sungguh-sungguh terhadap penyelesaian masalah kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar. Dengan niat yang baik, saya telah mengirim surat kepada Presiden Thein Sein, dan mendorong agar masalah konflik antar etnis dapat diselesaikan dengan cepat, bijak dan tepat," kata Kepala Negara ketika menyampaikan Pidato Kenegaraan pada HUT ke-67 Proklamasi Kemerdekaan RI di depan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (16/8/2012).

Pada kesempatan itu, Presiden juga menegaskan, pemerintah memiliki komitmen yang kuat dan terus berkontribusi untuk memastikan diimplementasikannya berbagai kesepakatan yang dicapai ASEAN dan KTT Asia Timur. Apa yang disepakati selama Indonesia menjabat sebagai Ketua ASEAN pada tahun 2011 harus dapat kita wujudkan.

Dikatakan Kepala Negara, terwujudnya Komunitas ASEAN pada tahun 2015 merupakan cita-cita penting yang menjadi prioritas negara-negara ASEAN menuju satu visi, satu identitas, dan satu komunitas.

Kepala Negara juga mengatakan, pemerintah Indonesia juga terus mendorong keterpaduan dan peran sentral ASEAN dalam menghadapi berbagai tantangan di sekitarnya, termasuk perkembangan terkait Laut Cina Selatan.

Presiden kembali menyatakan bahwa pemerintah menyayangkan, pertemuan ASEAN pada tingkat menteri tahun 2012 belum berhasil mengeluarkan joint communiqué. "Namun, berkat langkah diplomasi yang kita lakukan secara proaktif dan intensif, keterpaduan dan peran sentral ASEAN telah kembali terjaga dan terkonsolidasikan, dengan disepakatinya six-point principles on the South China Sea sejak 20 Juli lalu," kata Presiden.

Dengan adanya code of conduct yang dibicarakan pada ASEAN dan East Asia Summit di Bali tahun 2011, sambung Presiden, Indonesia bisa menjaga stabilitas, keamanan dan ketertiban di wilayah Laut Cina Selatan.

Monday, August 20, 2012

Investasi China di Indonesia Perlu Waktu

AppId is over the quota
Sejumlah eksekutif dari perusahaan China berdiskusi dengan Redaksi Kompas di Jakarta, Rabu (20/4). Eksekutif perusahaan milik negara dan swasta China tersebut menyatakan tetap berkomitmen menanamkan modal di Indonesia di sejumlah sektor.

JAKARTA, KOMPAS.com - Investasi asing langsung dari China ke Indonesia memang belum terlalu banyak. Namun, dalam beberapa tahun ke depan, investasi ini akan semakin mengalir.

”Untuk saat ini, nilai investasi China memang tidak begitu besar. Tetapi, jangan khawatir, dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, jumlahnya pasti akan meningkat,” ujar Duta Besar China untuk Indonesia Liu Jianchao di Jakarta, Selasa (14/8).

Menurut dia, perusahaan-perusahaan di China baru mulai berekspansi dalam 10 tahun terakhir ini, jauh lebih lambat dibandingkan perusahaan dari negara lain yang sudah berekspansi bisnis selama puluhan tahun. Ia mengambil contoh, perusahaan pemasok perangkat telekomunikasi Huawei, 10 tahun lalu masih sangat kecil, baru belakangan berkembang dan berekspansi hingga ke luar negeri.

Alasan lain, perusahaan China juga masih menggarap pasar domestik yang sangat besar. Perkembangan ekonomi di China membuat perusahaan giat berinvestasi pada bidang infrastruktur, teknologi, dan lainnya.

”Hasilnya, setelah 30 tahun membuka diri, kini jalan tol China terpanjang di dunia dan jaringan rel kereta api terbesar nomor dua di dunia. Sekitar 30 tahun lalu, mungkin hanya ada satu dari 10.000 keluarga yang memiliki telepon, sekarang semua orang memiliki telepon,” katanya.

Investasi juga merupakan keputusan jangka panjang. Untuk memutuskan berinvestasi di sebuah negara, diperlukan pengetahuan yang lengkap mengenai pasar, kebudayaan, dan peraturan setempat.

”Untuk mendapatkan kepercayaan perlu waktu lama. Hubungan diplomatik kedua negara baru berjalan kembali selama 22 tahun. Perlu waktu untuk benar- benar memahami pasar. Baru bisa berinvestasi,” kata Liu.

Menurut Liu, keadaan ini sangat mirip dengan 30 tahun lalu ketika China baru mulai membuka diri. Ketika itu, perusahaan asing berhati-hati sekali untuk masuk ke China. Lama-kelamaan setelah kepercayaan bertumbuh, barulah semakin banyak perusahaan yang mau berinvestasi ke China.

Duta besar Liu juga mengatakan, dalam menjalankan tugasnya di Jakarta, dia akan fokus pada peningkatan perdagangan. (Joe)